Tangerang, 14 Mei 2011, jam 08.00-12.00. At Campus University of Multimedia Nusantara
Saya Windyanarti Presta, betul-betul membutuhkan banyak pencerahan mengenai seluk beluk untuk jurusan yang harus saya ambil ketika semester tiga nanti, pada tanggal 14 mei kemarin saya menghadiri sebuah seminar penjurusan yang sangat menarik perhatian saya, karena saya yakin dari seminar tersebut saya bisa mendapatkan informasi yang saya butuhkan apalagi saya bisa sharing dengan para pakar baik dalam bidang Jurnalistik (Bpk. Jams), Public Relation (Bpk. Brata T.Harjono) dan Broadcase (Bpk. Rhemon Khaya) yang begitu hebat membawakan seminar tersebut dengan baik. Nah, beliau-beliau inilah para pakar handal dibidangnya masing-masing, meskipun ketika beliau kuliah mengambil jurusan yang berbeda dengan karir yang mereka tempuh sekarang bukan berarti mereka tidak mampu meraih kesuksesan, saya akan menjelaskan mengenai latar belakang dari beliau-beliau yang hebat ini sekaligus membongkar seperti apa perjalanan karir mereka. Namun saya akan terbatas hanya pada Jurnalistik yang sebagai pembicaranya adalah Pak. Jams.
Dari seminar yang dibawakan Pak. Jams kemarin, itu sangat menggugah motivasi sekali karena beliau menyampaikan cerita yang begitu serunya menjadi seorang jurnalis, terutama ketika ditugasi untuk meliput keluar negri, tapi ternyata saya salah perkiraan, saya menyangka Pak. Jams adalah seorang yang berasal dari lulusan Jurnalistik namun ternyata bukan, beliau adalah lulusan dari jurusan Public Relation, sangat bertolak belakang menurut saya. Namun toh nyatanya kini beliau menjadi wartawan yang begitu hebat di Koran Kompas, tidak menutup kemungkinan bukan. Di awal seminar beliau menyampaikan bahwa, rumitan mana jurnalis dibandingkan dengan public relation (selanjutnya PR) jawabannya jelas lebih rumit Jurnalistik, tapi sibuknya sudah pasti sama-sama sibuk, tapi pada saat kuliah memang PR lebih santai dibanding dengan Jurnal. Menurut beliau lulusan terbaik ketika kuliah belum menjadi jaminan akan menjadi jurnalis yang baik, sama halnya dengan ketika kita belajar mengendarai mobil, setelah kita bisa mengendarai mobil belum tentu kita menjadi pembalap mobil kan? Nah maka dari itu kemampuan kita dalam menulis pun harus diasah dan terus ditingkatkan bagaimana kita dapat menemukan sumber yang terpercaya, bagaimana kita harus menulisnya sehingga menjadi enak dibaca, karena bagaimanapun juga sebuah tulisan yang berbobot yang menentukan adalah kita sendiri. Waktu terbatas yang kita miliki baiknya jangan dijadikan hambatan untuk kita malah disitulah kita harus maju.
Beliau bertanya bila membuat berita gimana kalimat awal agar menjadi menarik? jawabannya adalah “dibandingkan”, jika suatu berita dibanding-bandingkan, orang lain akan menjadi berfikir, karena kalau berita itu tidak kontras orangpun akan malas berfikir dan berita tersebut tidak memiliki nilai jual lagi karena tidak menarik. Contohnya : ada seorang anak kecil, ia mengamen dari mobil satu kemobil yang lain dipinggiran jalan, kemudian kita tulis beritanya, didalam berita tersebut kita tulis, “saat anak-anak lain sedang belajar dan bermain disekolah, anak ini harus bekerja keres untuk mendapatkan uang demi sesuap nasi”.
Bila ditanya soal tingkatan mana saja yang paling menantang dari jurnalistik Pak Jams menjawab ada 3 tugas yang paling menantang yaitu, saat kita ditugasnya untuk menulis berita politik (baik dalam ataupun luar), berita ekonomi dan berita olah raga. Ada satu unsure kebetulan yang tidak bisa dibayangkan, menurut beliau adalah “Keberuntungan” saya sangat setuju dengan ini, karena menurut saya sehebat apapun Anda sebagai seorang wartawan bila memang saat itu Anda sedang tidak beruntung maka banyak moment didepan mata akan Anda lewat begitu saja, Pak Jams bilang kuncinya hanya satu yaitu “jangan putus asa” meskipun miss, jangan mudah menyerah dan jangan hitung-hitungan terhadap apapun. Contoh nyata yang dialami oleh Pak. Jams adalah saat ia harus mewawancarai Michale Jackson di Thailand, beliau tidak tau harus kemana agar bisa mewawancarai sedangkan tiket saja tidak punya, namun keberuntungan datang, ketika beliau berjalan-jalan disebuah mall besat disana ada gerombolan ramai-ramai, karena ingin tau maka melihatlah (mengecek) beliau kesana dan ternyata ada Michale Jackson disana mau masuk ke mall, kemudian saat itu juga beliau berfikir “siapa orang yang bisa didekati biar saya bisa dapat wawancaranya” akhirnya beliau mendekati salah satu bodygardnya yang ada dibelakang, mungkin karena terlalu sibuk, si bodygardnya mengeluarkan dua buah kertas yang ternyata tiket nonton konser Michale Jackson, “waah beruntung sekali saya saat itu, kemudian berangkatlah saya kekonser itu dan wawancarailah dia” serunya. Unsur-unsur yang terkandung didalam cerita tersebut adalah beliau ingin menyampaikan bahwa kita harus berfikir cepat bagaimana caranya agar kita dapat kesempatan tersebut agar jangan sampai hilang, kita gak perlu planning lagi, semua itu datang dari langit, unsur lain beliau katakan jurnal itu menarik tapi membutuhkan pengorbanan waktu agar kita menjadi jago, karena kita belajar untuk menguasai topik maka dari itu kita membutuhkan waktu, sebab kitalah yang memutuskan akan jadi seperti apakah kita kelak, dunia globalpun mempengaruhi, karena jurnalistik sekarang makin bertambah apalagi karena adanya peningkatan multimedia, “Kepekaan itu mutlak, yang dapat mewakili public”.
Ada teman saya bertanya “Bagaimana mengikuti dunia yang menjadi global” :
o Pelajari, jangan ikut akan berita yang sama dengan berita yang lain.
o Bagaimana membuat berita yang tepat dan cepat (khususnya wartawan harus bisa menulis)
o Kadang beritanya sulit, susah konsentrasi antara konten dengan gambarnya , wartawan harus bisa mengerjakan apa saja (Super Reporter)
o Jangan pernah merasa Puas hanya karena ada yang memuji, karena itu akan menghambat daya kreatifitas anda,
o Jangan melepas informasi terlalu banyak. Kalau belum tentu kebenarannya (seberapa cepat kita harus bisa).
o Harus yakin sumber bener-bener tau baru atau akan diambil.
Pasion (ketertarikan, semangat, dan dinamis), adalah awal dari semua jalan yang ingin kita tempuh didalam segala bidang yang akan saya pilih kelak. Sukses untuk kita semua.